Survey Geofisika Terintegrasi untuk Investigasi Arkeologi di Jombang, Jawa Timur

JOMBANG – Selasa, (10/12/2019), Tim Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina yang bekerja sama dengan Program Studi Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh November, dan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan survey Geofisika Terintegrasi untuk mengetahui persebaran dua buah situs arkeologi di Desa Sumberbeji, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Metode Geofisika yang digunakan adalah Metode Ground Penetrating Radar (GPR), Metode Geomagnetik, Metode Geolistrik, serta dilengkapi dengan pengukuran GPS Geodetic.

Pengukuran hari pertama dimulai dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR), pengukuran dilakukan secara menyeluruh terlebih dahulu, baru kemudian menyentuh sekitaran area pentirtaan dengan luas 100 meter persegi. Pada area pengukuran ini tim menemukan struktur berbentuk kanal atau saluran air yang terbuat dari batu bata merah khas kerajaan Majapahit. Kanal tersebut perkiraan pada kedalaman 2-3 meter dengan lebar sekitar 80 centimeter yang merupakan jalur suplai air untuk pentirtaan. Sementara itu pengukuran metode Geomagnetik digunakan untuk mengukur perbedaan nilai kemagnetan antara struktur bangunan dengan lapisan tanah penutupnya, sedangkan metode metode Geolistrik digunakan untuk mencari perlapisan tanah penutup situs pentirtaan tersebut.

Arkeolog Wicaksono dari BPCB Jatim menjelaskan bahwa situs Sumberbeji diperkirakan tersebar pada area seluas 500 meter persegi sehingga tidak mungkin untuk menggali semua area tersebut. Akan tetapi hanya titik-titik yang direkomendasikan oleh tim gabungan Teknik Geofisika. Hasil dari pengukuran yang dilakukan akan dipaparkan kepada Bupati Jombang untuk perencanaan kajian strategi dimasa yang akan datang.

Pengukuran pada hari kedua dilaksanakan pada 2 titik pengukuran yaitu situs Sumberbeji dan Situs Kedaton yang berjarak sekitar 3,6 km. Situs Kedaton berada di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pengukuran di situs Sumberbeji melanjutkan metode Ground Penetrating Radar (GPR) dan metode Geolistrik agar bisa menghasilkan data yang detail, sementara di situs Kedaton dilakukan pengukuran metode Geomagnetik karena pada situs ini  masih berada pada areal ladang yang susah untuk melakukan pengukuran metode Ground Penetrating Radar (GPR) maupun metode Geolistrik.

~Hasil pengukuran ini diharapkan dapat menjadi bahan atau acuan Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur untuk  mengembangkan situs warisan cagar budaya Indonesia ~

 

Penulis : Firdaus Sigma Rizqi
Editor   : Rani Nasrasyam Zalma