Surat Kecil untuk Kota Besar dari Wisudawan Terbaik

Jakarta – Rabu, (26/08/2020). Telah dilaksanakan Wisuda ke 2 Universitas Pertamina, suatu kebanggaan bagi keluarga besar Program Studi Teknik Geofisika, yakni dengan terpilihnya Willi Leonardo Sihombing sebagai perwakilan mahasiswa berprestasi se-Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi dan se-Program Studi Teknik Geofisika. Willi merupakan mahasiswa angkatan 2016 Teknik Geofisika yang berasal dari Kota Siantar merantau jauh ke Ibu Kota untuk mengenyam bangku perkulihan guna menimba Ilmu Pengetahuan. Banyak kisah menarik yang telah Willi rasakan, mari kita baca sepucuk “Surat Kecil untuk Kota Besar” dari Willi sebagai motivasi bagi adik-adik mahasiswa yang merantau jauh ke Ibu Kota demi melanjutkan studi di Perguruan Tinggi.

 

Surat Kecil untuk Kota Besar

~Willi Leonardo Sihombing~

 

“Hidup selalu soal perjuangan dan perubahan, disaat kau berhenti berjuang dan berubah menjadi lebih baik, maka ada yang salah dalam hidupmu”

Halo semua, kutipan diatas akan mengawali tulisan ini. Dari kutipan tersebut akan merangkum dari pengalaman ini. Pertama, perkenalkan nama ku Willi Sihombing berasal dari Kota Pematangsiantar, salah satu kota di Sumatera Utara. Pada kesempatan ini saya diberikan untuk membuat sebuah pengalaman perjuangan kuliah di Ibukota. Mungkin perjuangan ku tidak seindah perjuangan kalian, namun, ini akan menjadi kisah indah bagi kehidupanku.

Pada awalnya aku akan menceritakan sedikit pendidikan bangku SMA ku. Aku bersekolah di salah satu SMA negeri di kota siantar, katanya sih, SMA ini SMA favorit dari dulu, haha. Biarpun ini SMA favorit ya keadaan didalamnya tak semanis “katanya”. Dari dulu, aku uda suka dan tertarik dengan organisasi sehingga lebih berfokus organisasi dibanding akademik di sekolah. Karena itu, di sekolah biasanya sering cabut, ngga belajar dengan alasan “elegan” yaitu urus organisasi, hehe. Tapi, biarpun sering ga belajar, selalu dapat 10 besar terus dikelas, biarpun dengan cara yang banyak “taktik” sehingga otak yang terisi kosong dan dirapot hanya sebatas angka.

Diakhir sekolah berpikir ingin kuliah yang disukai, yaitu ilmu pertanian dimana saat itu berpikir bahwa ilmu tersebut tidak ada hitung-hitungan. Periode seleksi pun dimulai, mencoba memasuki kampus pertanian di bogor melalui jalur undangan dan hasilnya gagal. Dari sini sebenarnya uda sedikit depresi, karena yang menjadi pegangan adalah nilai rapot yang bagus, karena untuk ujian tidak mempunyai kemampuan.

Kemudian mencoba lagi dengan pilihan 1 ditempat yang sama dan pilihan lain di kampus yang di palembang. Selama sebelum ujian, disini sudah giat belajar dari nol dan sadar akan kemampuan. Paralel dengan pendaftaran ujian, aku daftar di Universitas Pertamina juga, yang mana dulunya asal coba aja dan tidak tahu apapun latar belakang jurusannya. Singkat cerita, otak ini pun sudah terbekali materi – materi SBMPTN.

Namun, hasil dari ujian negeri tidak mendapat pilihan 1, namun lolos di pilihan 2 yaitu universitas negeri di palembang. Selain itu, lolos juga di Universitas Pertamina dengan jurusan teknik geofisika yang tidak tau latar belakangnya karena asal pilih dan namanya bagus “geofisika”. Bersyukur sih dapat dua pilihan kampus, namun karena alasan lain yaitu pengen naik pesawat dan tidak mau kuliah dipulau sumatera, diambillah jurusan Teknik Geofisika Universitas Pertamina di Jakarta.

Setelah memutuskan ambil pilihan tersebut, mulailah mencari tahu latar belakang geofisika. Nah, saat sudah tahu, baru disini pusing nya. Kirain, hanya belajar tentang geologi bumi, ternyata belajar matematika dan teman-teman hitungannya. Padahal di SMA tidak ada bekal sama sekali tentang ilmu matematika. Mulai disini sih uda pusing sendri, kalo bahasa sekarang insecure, uda ngeliat teman-teman yang lain dari SMA bagus dan lebih berisi, tapi disini tetap masih positif dan mencoba tenang.

Semester 1 pun dimulai, biasa awal-awal masih semangat main-main, ya berkenalan dengan orang lain dan saling dekat. Karena kampus ini kampus baru dan belum ada organisasi, ya akhirnya kumpul bareng teman se-prodi atau teman yang lain untuk membangun organisasi (kebiasaan SMA). Itu disisi bersosial tidak ada kendala, karena dari SMA uda ada bekal untuk itu. Nah, waktunya bagian akademik yang membuat was-was. Dari kekalahan jalur undangan dan jalur ujian kampus bogor sudah membuat tekad untuk berubah dan harus membuat akademik yang bagus. Nah, semangat ini lah yang membuat rajin belajar, sampai dengan teman kosan buat tutor sebaya dan beli papan tulis untuk belajar MaFiKi (Matematika-Fisika-Kimia).

Tapi ya mau gimana, peralihan SMA ke kuliah yang membuat kaget ditambah di SMA tidak ada bekal yang nempel MaFiKi, namun tetap semangat untuk melakukan yang terbaik. Tibalah ujian dan disini uda berkomitmen tidak memakai “taktik” di SMA karena uda tobat, haha. Namun, emang tidak semudah itu, keluar lah hasil ujian yang nomor sepatu lebih besar dibanding nilai ujian dan nilai IP yang dua koma, hahaha. Disini sih uda pikir ga karuan tapi ya tidak terlalu kecewa karena ya emang uda berusaha dan maksimal.

Singkat cerita, cara belajar lebih diperbarui dan diubah, tapi emang tidak ketinggalan dalam organisasi (karena uda hobi). Karena sudah kesal dengan nilai MaFiKi dengan nilai cukup, maka bertekad harus mendapat nilai bagus. Di tahap ini lebih banyak trial and error sih cara belajar nya, haha. Dari yang belajar sendiri, di ajarin orang lain, dan sampai ngajarin orang lain. Nah, hingga mendapat tipe belajar yang paling pas yaitu belajar sendiri hingga ngerti kemudian ngajarin orang lain hingga ngerti, metode ini sih yang paling masuk dan gampang dilakukan.

Masuk ke semester dua dengan semangat 45. Singkat cerita, hasil ujian pun memuaskan dan bisa dibilang tidak malu-maluin lagi, haha. Dari sini berarti satu permasalahan sudah teratasi, tinggal fokus ke bidang organisasi (lagi) dan prestasi (hobi baru). Di semester ini sih uda buat target-target tiap semester dan tahun. Target di tahun pertama ya beradaptasi, tahun kedua organisasi (setiap tahun sepertinya), lomba, asisten praktikum dan konferensi, tahun ketiga melakukan magang dan lomba, dan tahun keempat fokus skripsi dan lain-lain. Kemudian, ada target-target yang tidak terduga. Pertama ingin dapat “dean list”, kedua ingin dapat IP 4, dan ketiga ingin dapat beasiswa. Haha, beasiswa ini yang paling tidak terduga, karena selama hidup ga pernah terbayang dapat beasiswa prestasi.

Singkat dari target tersebut sih, Semester 1 hingga 7 itu tahun perjuangan, dan pengennya semester 8 itu saat santai dan menikmati. Nah, tapi saat skripsian sebenarnya banyak drama yang terjadi, dari tema yang berubah hingga materi skripsi yang diubah. Ya, mungkin ini biar ga terlalu santai mungkin ya saat TA, karena di semester akhir ini emang tidak ambil mata kuliah lagi. Rencana nya sih pengen ngerjain TA dengan santai dan jalan-jalan, haha. Tapi tidak semudah itu, semua berubah saat “Mas Corona” datang. Jadinya, gagal dah rencana santai nan jalan-jalan. Tapi yakin dan percaya, semua ada makna dibalik keadaan itu, singkat cerita karena sudah bosan dengan drama skripsi sehingga ingin cepat-cepat menyelesaikannya. Singkat cerita, daftar sidang di batch 1 (Juli) dan terjadilah sidang dengan baik dan lancar dengan nilai yang bagus. Kemudian, datang info tiba-tiba dari kampus bahwa akan ada wisuda 2 untuk periode sidang Juli. Padahal, pengennya oktober biar bareng teman yang lainnya, tapi ya sudah lah.

Sebelum wisuda 2, telah dilaksanakan Wisuda 1 di akhir juli. Nah, karena wisuda online dan yang offline cuman pihak rektorat serta wisudawan terbaik per jurusan, ya sedikit kecewa, karena tidak menikmati euforia wisudanya. Saat wisuda 1 berlangsung, sejujurnya terlintas pengen jadi wisudawan terbaik (hahaha) agar wisudanya tetap dikampus dan berjumpa dengan rektor (hehe). Tapi saat itu, ya hanya sekedar keinginan, karena sudah tau diatas saya masih ada yang lebih baik dibanding diriku, ya didalam hati “ngarep apa dari IP yang semester 1 nya dua komma”, haha.

Aku juga tanya kepada teman yang akan wisuda 2, siapa yang menjadi wisudawan terbaik, tapi jawabannya ternyata info dari dosen bahwa wisudawan terbaik diambil Se-Fakultas, haha, dalam hati, ya makin tidak ada lagi kesempatan, dan sudahlah wisuda online di kamar beserta kasur yang nyaman. Singkat cerita, rencana Tuhan tak ada yang tahu.

Tibalah seminggu sebelum wisuda dan mendapat pesan WA dari KaProdi yang mengucapkan selamat karena saya terpilih menjadi Wisudawan Terbaik se-Fakultas sembari mengirim surat undangan resmi dari kampus. Jujur, saat membaca pesan tersebut, tidak bisa berkata apapun dan tangan langsung dingin bak terkena es batu serta jantung yang berpacu cepat selayak dentuman hujan deras dan badan yang terpaku membisu (maaf lebay). Tapi, ya seperti itulah keadaan yang sangat tidak disangka-sangka. Kemudian, ini adalah pesan kebahagiaan yang terkirim ke orang tua, karena ini akan mengobati jerih payah mereka.

Kemudian, terwujud lah keinginan awal untuk wisuda di kampus serta bertemu dengan rektor (hehe). Namun, aku sadar ini penghargaan bukan sekedar penghargaan tertulis saja, tapi begitu berat tanggungjawab amanah ini yang diberikan. Tanggung jawab kepada almamater, lingkungan sekitar, serta diri pribadi. Ini juga bukan akhir dari perjuangan, namun ini awal untuk memulai kontribusi nyata dan membuktikan kelayakan penghargaan ini.

Ringkasan yang dapat saya berikan adalah jangan takut untuk berubah menjadi lebih baik, mari tinggalkan kebiasaan lama yang buruk karena itu akan menjadi penyesalan pada akhirnya. Kemudian, kita sebagai mahasiswa harus memiliki target kedepan dan selalu berkontribusi terhadap sekeliling saat target tercapai, selalu terapkan apresiasi diri agar menikmati hasil serta proses yang dilalui. Lalu, untuk diri sendiri terapkan prinsip jangan sombong dan angkuh, karena hidup selalu berputar kadang di atas dan di bawah, sehingga tidak ada guna nya menyombongkan apa yang ada sekarang. Kampus kita memang kampus baru, namun jangan minder atau insecure terhadap kampus-kampus lain, karena kita semua bisa bersaing diluar sana yang penting kita sebagai mahasiswa harus saling kerjasama dan saling membantu jika ada kesulitan. Namun, bukan kerjasama dalam ujian tapi kerjasama dalam membangun diri lebih baik.

Demikian sepenggal cerita perjalanan pendidikan ku di “Kampus Energi” ini. Sejujurnya, masih banyak yang tidak dapat saya tuliskan disini karena keterbatasan ruang dan waktu yang ada. Maaf jika ada kesalahan kata dan kalimat serta bahasa yang tidak formal. Terimakasih sudah mau membaca kisah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

Penulis : Willi Leonardo Sihombing
Editor   : Rani Nasrasyam Zalma